Jumat, 15 Juni 2012

CATATAN SEJARAH MASYARAKAT BUGIS MAKASSAR DALAM GORESAN PENA PROFESSOR MATTULADA

0 komentar

 
Hari pertama Makassar International Writers Festival (MIWF) 2012 diadakan di Benteng Roterdam. Di hari pertama ini terdapat beberapa item acara yang diselenggarakan mulai pukul 10:00 am sampai pukul 22:00 pm. Salah satu agenda menarik hari ini ialah “ Disscusion : Today’s Bugis Makassar and Mattulada’s Intellectual Legacy”. Diskusi ini akan dibawakan oleh Mochtar Pabbotingi dan Anwar Jimpe Rachman, selain itu moderator dari diskusinya sendiri adalah Moch Hasymi Ibrahim. Mochtar Pabbotingi adalah seorang peneliti, pengamat politik dan seorang penulis yang produktif dengan puluhan essai, puisi, cerita pendek sejak ia belajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta selain itu beliau juga pernah menjadi mahasiswa dari Professor Mattulada sendiri. Selain Mochtar Pabbotingi diskusi tersebut juga diisi salah seorang penulis puisi, editor dan pustakawan, beliau merupakan Anwar Jimpe Rachman.

Diskusi kali ini akan membahas mengenai representasi warisan kultur bugis Makassar yang tertuang dalam coretan buku “LATOA” karya Professor Mattulada’s. Esensi dari buku ini ialah segala budaya dari berbagai lapisan masyarakat khususnya masyarakat bugis Makassar. Salah satu hal  menarik yang dituangkan oleh Professor Mattulada dalam bukunya ialah mengenai konsep politik dalam menyongsong kehidupan. Konsep politik ini memaparkan bahwa seluruh masyarakat mempunyai hak yang sama tanpa pembeda sama sekali. Seorang raja yang mempunyai kerajaan dan harta yang berlimpah mempunyai posisi yang sama dengan manusia biasa lainnya, raja tersebut berhak diadili jika melakukan kesalahan , seperti halnya dengan manusia biasa. Selain itu konsep politik ini juga memaparkan bahwa segala sesuatu yang harus dilakukan harus melewati proses musyawarah.

Mochtar Pabbotingi selaku pemateri memperjelas bahwa ada empat hal yang bisa ditafsirkan dari buku “LATOA” karya Professor Mattulada. Pertama bahwa manusia itu sederajat dengan manusia lainnya. Kedua adalah kerelevanan konsep atapun prinsip yang pertama dengan konsep demokrasi modern. Ketiga  mengenai pergeseran nilai- nilai  yang tercerminkan pada perilaku masyarakat bugis Makassar dan yang terakhir adalah mengenai konsep politik Aristoteles yang menjelaskan bahwa setiap manusia mempunyai tingkatan yang sama tanpa pembeda sama sekali.

Masyarakat bugis Makasar sebagai objek tulisan dalam buku karya Professor Mattulada terkenal akan penghormatan pada kata. Mereka menempatkan makna kata di tempat yang istimewa. Tidak ada suku yang bisa menandingi masyarakat bugis Makassar dalam penghormatan terhadap kata “tegas Pak Mochtar Pabbotingi”. Masyarakat bugis Makassar juga terkenal akan keterandalan, keterpercayaan terhadap penulisan histori setiap fakta ataupun filsafat penulisan sejarah Makassar tanpa melebih-lebihkan. Selain itu leluhur masyarakat bugis Makassar juga terkenal akan konsep politik dalam menyongsong kehidupan modern yang telah dipaparkan pada bagian awal.

Narasumber juga memaparkan bahwa kemajuan ilmu teknologi memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat bugis Makassar. Masyarakat bugis Makassar mulai kehilangan inisiatif sebagai subjek. Mereka mulai kehilangan orientasi atau rasionalitas dan mereka juga mulai merasakan ketidakmampuan masyarakat bugis Makassar dalam menentukan nasib sendiri secara rasional. Selain terhadap masyarakat bugis Makassar, kemajuan ilmu teknologi juga mempengaruhi konsep politik bugis Makassar yang menyebabkan terjadinya politik pecah bela dan distorsi politik atau penjinakan konsep politik bugis Makassar.
Terdapat beberapa alternatif solusi yang bisa dilakukan dalam mengatasi permasalahan di atas diantaranya adalah kebijakan politik dan kebijakan ekonomi harus diarahkan untuk mencerdaskan rakyat bukan semata-mata untuk memenuhi kepuasan pribadi. Ruang publik sebagai ruang peradaban juga harus dibiasakan pada masyarakat dan yang terakhir adalah kegiatan- kegiatan yang dapat mencerdaskan rakyat harus sering diberikan kepada masyarakat bukan kegiatan- kegiatan yang tidak mempunyai manfaat sama sekali yang hanya sekedar untuk memenuhi kepuasan sementara.

Jumat, 08 Juni 2012

JEJAK AWAL SANG VOLUNTEERS

0 komentar

JEJAK AWAL SANG VOLUNTEERS


Inilah awal cerita kami sebagai sang Volunteer dalam mengawal kesuksesan kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2012 yang akan diselenggarakan pada tanggal 13- 17 Juni 2012.  Festival ini nantinya akan mengahadirkan beberapa penulis internasional, nasional dan penulis lokal, dengan menitikberatkan pada pertukaran pengalaman dan perluasan kerjasama. Tujun dari kegiatan ini terpancar dari tema yang diusung yakni “Visiting the Memories” . Program MIWF 2012 ini tersusun dari beberapa item acara, yang dikemas dalam bentuk diskusi, pembacaan karya, tur penulis, lokakarya dan panggung komunitas.

Jumat 9 Juni 2012 bertempat di Rumah Budaya  Rumata’ jalan Bonto Nompo 12 merupakan bukti bisu bertemunya seluruh Volunteer yang berhasil terpilih untuk mendedikasikan diri dalam kegiatan ini. Pertemuan yang dinahkodai oleh Kak Afdhalia ini berlangsung dengan baik, canda tawa dan keseriusan tatkala tidak lupa mewarnai pertemuan kali ini.  Pembagian job seperti LO, MC, Kordinator setiap kegiatan dan Tim kesekretariatan merupakan agenda rapat perdana yang akan dibahas.

Rasa penasaran terlukis di setiap wajah sang volunteer, mengenai tugas apa yang diamanahkan kepada mereka sebagai volenteer. Pembagian tugas ini tentunya berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh masing- masing volunteer. Volunteer yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik ditempatkan di bagian LO, Volunteer yang mempunyai pengalaman di bidang kesekretariatan ditempatkan di bagian kesekretariatan. Selain itu bagi Volunteer yang tidak secara aktif berbahasa Indonesia ditempatkan di bagian yang tidak perlu berkomunikasi dengan orang lain, Tegas kak Afdhalia.

Setelah pembagian job, masing- masing volunteer pun mulai menjalin keakraban dengan volunteer lainnya, rasa persaudaraan pun mulai terikat sesama volunteer. Sebelum pertemuan ini ditutup,  kak Afdhalia  sebagai sang nahkoda rapat sekali lagi mempertegas bahwa “tugas seorang volunteer adalah tugas sukarela, kita bekerja tanpa mengharapkan sebuah imbalan”. Sebenarnya masing- masing volunteer sudah mengetahui hal tersebut, “bekerja tanpa mengharapkan imbalan” itu adalah kami, sang volunteer sejati.


Selasa, 05 Juni 2012

“KETIKA PEMUDA MEMBANGUN MASYARAKATNYA ”

2 komentar

 
“KETIKA PEMUDA MEMBANGUN MASYARAKATNYA ”


Cerita ini berawal dari mimpi seorang pemuda yang ingin melakukan perubahan terhadap desanya dan masyarakat yang tinggal di desa tersebut. Pemuda ini namanya Irwan, Irwan tinggal di suatu desa terpencil di atas bukit, namanya desa Kahaya. Desa ini ditempati oleh 66 kepala keluarga, Kahaya adalah sebuah desa yang terletak jauh dari perkotaan. Kahaya berjarak sekitar  10 km dari perkotaan tapi karena jalanan yang sukar untuk dilalui makanya kita membutuhkan waktu sekitar 4 sampai 5 jam untuk  ke desa tersebut dgn berjalan kaki, sebab tidak ada kendaraan yang dapat  melintas di jalan yang berbahaya ini.
Dusun ini belum memiliki penerangan sendiri serta akses jalan yang sulit untuk dilalui. Sebagian besar warga desa Kahaya tidak memliki latar belakang  pendidikan,  sebagian dari mereka buta aksara dan  tidak mengerti  bahasa Indonesia. Seperti inilah gambaran umum masyarakat disana, perkebunan yang digarap tanpa didasari teknik pertanian, sehingga hasil alamnya tidak dapat diharapkan menjadi penunjang perekonomian warga. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat kahaya hanyalah sebagai petani kopi dan markisa. Sebagian besar masyarakat disana tidak mempunyai semangat untuk hidup, mereka tidak berusaha sama sekali untuk memperbaiki kondisi desanya, alasannya karena itu adalah hal mustahil, hal yang tidak mungkin terjadi. Namun ada salah  seorang pemuda yang mempuyai mimpi dan angan untuk merubah total desa tersebut, ia ingin desanya mempunyai sistem penerangan sendiri, mempunyai akses jalan yang mudah untuk dilalui dan ingin mengubah masyarakat desa tersebut mnjadi masyarakat yang kreatif dan mandiri. Dia lah Irwan pemuda yang berani bermimpi ,semangat dan tekad  yang kuat adalah sahabat karibnya,  maka nya ia tidak pernah menyerah ataupun berfikir sedikit pun untuk mundur dari mimpinya.
Suatu hari dengan bantuan beberapa tokoh masyarakat, pemuda ini megumpulkan seluruh warga, kiranya untuk membicrakan langkah- langkah apa saja  yg harus dilakukan  untuk membentuk desa Kahaya  menjadi desa yang di idam-idamkan selama ini. Melalui bantuan dari bebarapa tokoh masyarakat ,akhirnya Irwan  mendapatkan kepercayaan oleh seluruh warga untuk memimpin dalam pembangunan desa tersebut.
“ Kita harus melakukan perubahan terhadap desa kita yg tercinta ini, kita tidak boleh hanya berpangku tangan menungggu keajaiban tuhan! Kita harus bekerja sama, dan saling membantu satu sama lain” kata Irwan kepada seluruh masyarakat.
Salah seorang warga pun angkat bicara  “ Itu Mustahil!!!!!  Apa yang kita lakukan hanyalah hal yang bodoh dan sia- sia, bagaikan memindahkan gunung yangg tinggi. Sampai kapan pun desa ini tidak akan berubah”!!
“Apapun hasilnya  nanti, baik atau buruk tidak ada yang tahu, yang penting kita harus berusaha bersama-sama,  makanya saya sangat membutuhkan kepercayaan kalian untuk memimpin pembngunan desa ini , apakah saudara mau diselimuti kegelapan terus menerus setiap malam nya, apakah saudara mau melihat masyarakat yang kerjanya hanyalah bermalas-malasan, apakah saudara mau anak- anak kita nantinya juga tidak bisa menikimati yang namanya bersekolah!  kita harus melakukan perubahan terhadap desa kita ini” kata Irwan sambil melirik ke warga yang anggkat bicara tadi.
Salah satu tokoh masyarakat   yang bernama pak Muhlis juga mulai angkat bicra  ‘ apa salahnya kita berikan kesempatan kepada pemuda ini! Pemuda ini sangat bersemangat dan mempunyai niat yang baik, jadi marilah kita mendukung usulan pemuda ini !
“ Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mengubah desa ini ?? kata salah seorang warga.
“ Irwan pun  menjawab dengan lantang dan tegas  “Langkah pertama yaitu kita harus memikirkan agar aliran listrik dapat masuk di desa ini, dan jalanan harus diperbaiki sehingga dapat dilalui oleh kendaraan, agar kita tidak susah payah lagi untuk berjalan kaki berjam-jam untuk turun ke perkotaan. Maka dari itu  saya dan beberapa tokoh masyarakat nantinya akan turun ke kota, bagaimana pun caranya saya harus bertemu dengan pemerintah setempat kiranya mereka dapat membantu kita semua”
Keesokan harinya , Irwan dan beberapa tokoh masyarakat pun turun ke kota untuk bertemu dengan pemerintah setempat. Setiba di kota mereka langsung ke kantor bupati untuk bertemu dengan bapak bupati.
Ada yang bisa kami bantu pak ! kata salah seorang karyawan di kantor bupati.
Kami mau bertemu dengan bapak bupati, kami mempunyai urusan yang sangat penting. Mungkin bapak bisa membantu untuk mempertemukan kami dengan bapak bupati” kata pak Muhlis.
Kebetulan bapak bupati sekarang ada diruangannya, mungkin bapak-bapak sekalian bisa langsung masuk ke ruangannya , mungkin hanya 2 orang yang bisa masuk, yang lainnya silahkan tunggu di depan pintu, kata karyawan tersebut dengan nada yang sopan!
Selamat siang pak, kami masyarakat dari desa kahaya, kiranya kami ingin meminta bantuan kepada bapak “kata Irwan
Bapak bupati pun menjawab “ Desa kahaya !!!!  baru kali ini aku menerima tamu dari desa Kahaya. Ada keperluan apa, sehingga bapak relakan jauh-jauh kesini ?
Begini pak, kami telah merencanakan untuk melakukan pembanguan di desa Kahaya , rencananya kami ingin mengusahakan agar  aliran listrik juga dapat dinikmati oleh masyarakat Kahaya. Selain itu kami juga akan memperbaiki jalanan menuju desa kami, seperti yang bapak tahu, jalanan menuju desa kami hanyalah dapat dilalui dengan berjalan kaki, tidak dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan.” jawab Irwan.
Sebenarnya, kami telah  mengusahakan agar aliran listrik dapat dinikmati oleh masyarakat Kahaya,  jarak antara desa Kahaya dan perkotaan begitu jauh merupakan salah faktor penghambat terbesar sehingga aliran listrik tidak dapat sampai di desa Kahaya. Selain itu  Baru-baru ini kami sudah memperbaiki jalan raya sekitar perkotaan, dan nantinya kami akan mengusahakan juga memperbaiki jalan menuju desa Kahaya, tapi kami tidak janji, sebab dana yang dibutuhkan itu sangat besar. “Kata bapak bupati.
Dengan perasaan yang sedikit kecewa, pak Muhlis dan Irwan pun pamit pulang!
Setiba di desa, mereka kembali membicarakan langkah-langkah selanjutnya, namun kali ini sebagian masyarakat sudah putus asa “ Langkah apa lagi yang ingin dibicarakan! semuanya sudah jelas, pemerintah hanyalah bisa berjanji, berjanji dan terus berjanji!! Suatu kesalahan terbesar kalau kalian percaya dengan pemerintah!!Kata salah seorang warga
“Kita tidak boleh bersifat pesimis seperti itu, untuk  langkah selanjutnya saya sendiri yang akan tangani. Saya akan berkunjung ke salah satu desa di kota sebelah. Saya dengar mereka membuat sendiri sistem penerangannya dengan bantuan energi turbin” Kata Irwan dengan tegas.
Dua hari kemudian, akhirnya Irwan tiba di desa Bajoe, desa tersebut menggunakan energi turbin untuk menghasilkan aliran listrik yang nantinya dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar. Irwan pun mulai mempelajari cara merakit dan cara kerja turbin tersebut sehingga bisa menghasilkan listrik.
Sebulan kemudian, Irwan pun kembali ke desanya dan menerapkan ilmu yang telah dia dapat. Namun, untuk membuat sebuah pembangkit tenaga listrik dari turbin, membutuhkan dana yang begitu besar untuk membeli alat dan bahan yang diperlukan. Setelah berbicara dengan masyarakat akhirnya disepakati  untuk memungut iuran setiap kepala keluarga. Selain itu mereka juga meminta pertolongan dari desa-desa sebelah dan pemerintah setempat.
Beberapa hari kemudian proyek pembuatan turbin pun di mulai dibawah kendali Irwan. Seluruh alat dan bahan di angkut dengan menggunakan hewan ternak warga seperti kuda dan kerbau. Seluruh warga ikut berpartisipasi, baik itu bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda-pemuda,bahkan anak-anak kecil juga ikut berpartisipasi. Kerjasama warga yang begitu kompak ternyata menuai hasil yang baik, beberapa bulan kemudian proyek pembuatan turbinnya pun selesai. Seluruh ,masyarakat Kahaya pun senang sebab mereka sekarang dapat menikmati yang namanya energi listrik dari hasil kerja keras mereka sendiri.
Inilah hasil kerja kita selama ini, jika kita berusaha dan bekerja sama ,tidak ada yang tidak mungkin! Kata Irwan.
Selanjutnya kita harus memperbaiki fasilitas jalanan menuju perkotaan, sehingga dapat dilalui oleh kendaraan!
Melihat kerja keras dan kerja sama  masyarakat Kahaya yang begitu besar, pemerintah setempat pun juga berusaha untuk ikut membantu dalam proyek perbaikan jalanan tersebut. Beberapabulan  kemudian, proyek tersebut telah selesai, sekarang jalanan tersebut sudah bisa dilewati oleh kendaraan.
Masyarakat kahaya sekarang sudah bisa hidup dengan tenang, mereka sudah  bisa menikmati listrik, mereka sudah bisa ke kota tanpa berjalan kaki lagi, cukup dengan menggunakan kendaraan. Selain itu masyarakat Kahaya sekarang menjadi masyarakat yang kreatif dan mandiri, dan berkat pelatihan-pelatihan yang telah diberikan oleh Irwan, sekarang masyarakat Kahaya sudah pandai menggarap dan memanfaatkan hasil pertaniannya sendiri.
Setahun kemudian, Kahaya diberikan penghargaan oleh bapak Presiden RI sebagai desa kreatif dan mandiri. Selain itu Irwan  yang dulunya dikenal sebagai pemuda aneh karena mempunyai mimpi-mimpi yang terlalu tinggi sekarang sudah diberikan kepercayaan untuk menjadi kepala desa di desa Kahaya.

Cerpen ini sengaja ditulis untuk didedikasikan kepada seluruh pemuda Indonesia. Jangan pernah takut bermimpi, Nothing is imposible,                     
 Orang sukses terlahir dari mimpi yang besar.
Hidup Pemuda Indonesia”

Senin, 04 Juni 2012

Pembicara Bisu

0 komentar

Pembicara Bisu
Di sebuah Kerajaan tua di daerah teroiska , daerah yang terletak di sebelah utara sungai Nil.   Kerajaan tersebut dinahkodai oleh seorang raja yang sejak lahir tidak dianugerahi kecakapan untuk berbicara ataupun mendengar dalam artian bisu dan tuli. Raja ini bernama Bernard, Pangeran Bernard tepatnya. Sejak ayahnya meninggal setahun yang lalu  pangeran Bernard harus melanjutkan tahta sang ayah sebagai raja teroiska, sebab hanya dia sendiri yang berasal dari keluarga kerajaan, sang ibu sendiri meninggal ketika ia melahirkan pangeran Bernard.
Selama ini pangeran hanya bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh. Setahun masa pemerintahan pangeran Bernard, terdapat begitu banyak masalah yang silih menghadang, penyebabnya sama, karena pangeran Bernard tidak dapat mengkomunikasikan perintahnya dengan baik maka menimbulkan kesalahpahaman antara pangeran Bernard dan para pengawal kerajaanya. Bahkan pernah hampir terjadi perang antar kerajaan akibat ketersinggungan pangeran dari kerajaan Bimbold, yang merasa tidak dihargai sewaktu bertamu ke tempat pangeran Bernard.
Pangeran Bernard pun merenung dan berfikir bagaimana agar apa yang ia ingin katakan dapat dimengerti oleh orang lain dan begitu pun sebaliknya, apa yang orang lain katakan dapat ia simak dengan baik. Ia pun memerintahkan pengawalnya untuk mencarikan dirinya seorang pembicara yang dapat mengkomunikasikan seluruh pemikirannya.Walau dengan susah payah, akhirnya pengawal pun mengerti maksud dari pangeran.
Sang pengawal pun menyebarkan sayembara ini sampai ke pelosok- pelosok desa. Namun tak seorang pun yang berminat untuk ikut dalam sayembara ini, mereka pikir ini adalah hal yang mustahil “bagaimana mungkin kita bisa memahami apa yang ingin dikatakan oleh pangeran sedangkan pangeran sendiri itu bisu dan tuli, pangeran pun tidak dibekali dengan kemampuan menulis ataupun membaca” kata salah seorang masyarakat teroiska.
Dua minggu setelah sayembara itu diadakan masih tak ada seorang pun yang berminat untuk menjadi pembicara pangeran. Namun beberapa hari kemudian muncul seorang gadis pengembala yang mencoba untuk memberanikan diri mengikuti sayembara tersebut. Gadis pengembala ini ternyata juga seorang yang bisu, sang pengawal pun merasa tak yakin , jika seorang gadis bisu dapat menjadi pembicara pangeran .
Sang pengawal pun mempersilahkan sang gadis pengembala untuk bertemu dengan pangeran. Sang gadis pengembala pun mulai menyapa pangeran dengan menggunakan bahasa tubuh. Tak lama kemudian mereka pun mulai bisa menyesuaikan diri. Beranjak dari hal itu sang pengeran Bernard pun mengangkat gadis pengembala tersebut menjadi pembicaranya.
Mulai saat itu, apa yang ingin dikatakan oleh sang pangeran kepada pengawalnya ia komunikasikan dengan sang gadis pengembala dengan menggunakan bahasa tubuh, selanjutnya sang gadis pengembala menyampaikan ke pengawal dengan menggunakan bahasa tulisan, begitu pun sebaliknya jika ada yang ingin dikatakan oleh sang pengawal kepada pengeran, ia mengkomunikasikannya kepada sang gadis pengembala secara langsung, dan nantinya sang gadis pengembala mengkomunikasikan kepada pangeran dengan menggunakan bahasa tubuh.
Beberapa bulan kemudian, kondisi kerajaan mulai membaik semenjak keberadaan pembicara sang pangeran, dan beberapa tahun kemudian  pembicara yang dulunya merupakan seorang gadis pengembala sekarang sudah menjadi seorang ratu kerajaan teroiska.

KU PINANG KAU DENGAN BATU NISAN

3 komentar

KU PINANG KAU DENGAN BATU NISAN




KU LANGKAHKAN KAKI INI KE PERISTIRAHATANMU
NIAT UNTUK BERTEMU, ITU ADA DALAM DIRIKU
ENTAH AKU SADAR ATAU TIDAK
KALI INI KU BAWAKAN SESUATU UNTUKMU

SEBUAH SURAT KALENG YANG KU TUJUKAN PADAMU
ITU CERMINAN DARI HATI KECILKU
ENTAH KAU TERIMA ATAU TIDAK
ITULAH YANG KU TUNGGU

KU BERANIKAN UNTUK LANGSUNG MEMINANG DIRIMU
EMAS 24 KARAT, ITULAH MODALKU
KESEDERHANAAN, ITULAH DIRIKU
SETIA SAMPAI UDARA TAK DAPAT LAGI KU HIRUP, ITULAH JANJIKU

PADI YANG KIAN HARI KIAN MENUNDUK
MENGAWAL KISAH KU INI
SAAT KU TIBA DI ISTANA KECIL MU
KERAMAIAN DI DEPAN PELAPAK MATA INI

KU KIRA KAU TELAH TAHU KEDATANGANKU
KU KIRA INI SAMBUTAN UNTUKKU
KU PIKIR PASTI JAWABANNYA “YA”
NAMUN, ITU HANYALAH SEBUAH PERKIRAAN

SEBUAH MAYAT TERBUNGKUS KAIN KAFAN
TERGELETAK DI ISTANA KECIL MU
KU TERSADAR, ALASAN KERAMAIAN INI
BUKAN KARENA KEDATANGANKU, TAPI KARENA MAYAT ITU

ITU SIAPA BU ?
KALIMAT ITULAH YANG KELUAR DARI MULUT INI
TERTUJU KEPADA SEORANG IBU YANG BERDIRI TEGAK
DI SAMPING LEMARI TUA

NITA ANAK PAK KADES!
ITULAH JAWABAN SINGKAT DARI IBU ITU
KU ULANG KEMBALI PERTANYAANKU, ITU SIAPA BU?
NITA ANAK PAK KADES!

KERAGUAN MASIH MENYELIMUTIKU
KU TANYAKAN SEKALI LAGI KEPADA ORANG YANG BERBEDA
ITU SIAPA PAK ?
NITA ANAK PAK KADES


KERAGUANKU BERUBAH MENJADI KEPASTIAN
JANJIKU BERUBAH MENJADI KETAKUTAN
EMAS 24 KARAT TAK LAGI BERHARGA BAGIMU
BATU NISAN, ITULAH MAS KAWINKU





Pages

Herzlich Wilkommen in mein Blog

Herzlich Wilkommen in mein Blog
Yusri

Meine Freunden

Ich bin Schrifteller

Ketika seorang penulis hanya menunggu, maka sebenarnya ia belum menjadi dirinya sendiri”. [Stephen King]

Cari Blog Ini