Minggu, 17 Juni 2012

“RIVER’S NOTE DALAM MIWF 2012”

0 komentar


 

 River, sejak ku tahu kau akan lahir ke dunia, aku mencoba mengingat kembali pelajaran- pelajaran kecil, tetapi berharga, yang mungkin tercecer atau terlupa. Kutemukan semua dari hal sederhana sampai luar biasa. Lalu kusiapkan semua kisah ini untukmu agar kau bisa mengingatnya sebagai pelajaran hidup “ Itulah sepenggal untaian perasaan kasih sayang yang ingin disampaikan oleh Fauzan Mukrim kepada anaknya yang diberi nama River.

River’s Note, itulah judul buku yang ditulis oleh salah satu penulis ternama yaitu Fauzan Mukrim yang menceritakan tentang kota, bangsa dan berbagai peristiwa yang dialami oleh penulis yang nantinya akan dipersembahkan kepada anak tercintanya River. Harapannya agar sang anak dapat mengenal lebih dekat ayahnya” Fauzan Mukrim” yang sering disapa dengan nama pak Fauzan.

Minggu 17 Juni 2012, Makassar International Writers Festival (MIWF) 2012 kembali menghadirkan penulis- penulis ternama baik itu dalam negeri maupun  luar negeri. Pada kesempatan kali ini “ Fauzan Mukrim” berperan sebagai narasumber dalam acara “Book Launch: River’s Notes with Fauzan Mukrim”. Begitu banyak peserta yang ingin berpartisipasi dan bertemu secara langsung dengan penulis buku River’s Note ini. Selain Fauzan Mukrim, juga hadir sang istri dan sang inspirasi dalam artian anak dari pak Fauzan “River” di tengah- tengah peserta.

Sebagai pembuka acara, Fauzan Mukrim menceritakan bahwa ada 3 kejadian yang melatarbelakangi beliau sehingga beliau menulis buku ini salah satunya yaitu ketika ayahnya terbaring sakit  beberapa hari sebelum dia meninggal dunia, sang ayah bertanya kepada Fauzan “ pulau- pulau mana saja yang perna kau datangi” Ungkap sang ayah. Fauzan pun menceritakan pulau- pulau yang ia pernah kunjungi, dan  ternyata beberapa tempat yang telah didatangi oleh Fauzan juga pernah didatangi oleh sang ayah . Fauzan pun terkejut, Fauzan mengira selama ini ia sudah akrab dengan ayahnya, sudah mengenal baik ayahnya namun ia sadar bahwa dia belum begitu mengenal ayahnya selama ini. Ia belum mengetahui bagaimana ayahku bisa bertemu dengan ibuku dan masih banyak hal lain dari sang ayah yang tidak diketahui oleh Fauzan Mukrim.

Beranjak dari hal tersebut Fauzan pun berinisiatif untuk menulis segala sesuatu yang dialaminya yang nantiya akan dipersembahkan kepada sang anaknya. “ Aku tak ingin mengulang kesalahanku, aku ingin anakku mengenalku melebihi caraku mengenal ayahku” tegas Fauzan Mukrim. Bermula dari hal tersebut Fauzan Mukrim pun mencoba untuk menulis segala catatan hariannya sebagai bekal persembahan untuk sang anak baik di blog, facebook, notes dan catatan lainnya.

Niat untuk membuat sebuah buku sebenarnya tidak perna terlintas dipikiran Fauzan Mukrim sendiri. Beliau hanya membayangkan tulisannya nantinya hanya berupa sebuah tumpukan kertas HVS yang akan diberikan kepada anaknya ketika dewasa nanti. Namun ternyata apa yang dipikirkan oleh Fauzan Mukrim tidak sejalan dengan realita yang terjadi. Seorang penerbit yang telah membaca catatan harian yang telah ditulis oleh Fauzan Mukrim tertarik untuk menjadikan catatan harian tersebut menjadi sebuah buku. Segala puji bagi Allah, itulah yang dirasakan oleh Fauzan Mukrim , tumpukan kertas HVS tersebut bisa menjadi sebuah buku yang berjudul “ River’s Note”.

“Semakin banyak yang aku tulis, semakin aku berfikir akulah yang justru banyak belajar darimu, dan inilah persembahan dariku, sebuah catatan cinta untumu” tegas Fauzan Mukrim kepada sang anak, sekaligus menutup acara diskusi kali ini. Namun sebelumnya moderator juga memperjelas bahwa ada dua hal yang bisa disimpulkan dalam buku ini. Pertama buku ini bisa digunakan sebagai buku pendidikan yang mengajarkan orang tua dalam mendidik seorang anak dengan menggunakan sebuah konteks. Kedua, buku ini berisikan peluru berupa cerita- cerita kecil yang merupakan modal ataupun kekuatan tersendiri yang dimiliki buku “ River’s Note” ini. Kesimpulan tadi sekaligus menutup kegiatan diskusi mengenai buku “ River’s Note” ini. (17/06/2012).

Sabtu, 16 Juni 2012

SIBILANGNGANG PARSENG : MAKASSAR LUMBUNG LITERASI

0 komentar
Hari ketiga di acara Makassar International Writers Festival (MIWF) 2012. Pada hari ini terdapat  10 item acara yang akan dilakukan, baik itu MIWF goes to campus, writing workshop, the jungle school dan masih banyak item acara lainnya. Salah satu acara yang menarik untuk dibahas pada hari ini adalah “ Book Disscusion Sibilangngang Parseng” bersama penulis- penulis ternama diantaranya Rampa Maega dan Mugniar Marakarma. Sibilangngang Parseng berarti seratus persen, maksudnya diskusi kali ini betul- betul akan membahas mengenai penulis- penulis yang berasal dari Sulawesi Selatan khususnya Makassar.

Rampa Maega merupakan salah satu narasumber pada diskusi kali ini yang sekaligus seorang penulis  dongeng ataupun cerita rakyat. Rampa Maega lahir dan besar di Toraja, setelah dewasa dia melanjutkan  pendidikannya ke tingkat universitas di salah satu perguruan tinggi yang ada di pulau Jawa. Adapun yang melatarbelakangi beliau sehingga menjadi seorang penulis ialah kegelisahan ataupun keprihatinan beliau akan cerita- cerita rakyat Toraja tidak familiar lagi di masyarakat khususnya pada anak- anak di Toraja. Beranjak dari hal tersebut beliau berniat untuk menulis dan membukukan cerita- cerita rakyat masyarakat Toraja. Harapannya agar masyarakat Toraja ataupun masyarakat di luar Toraja dapat mengetahui cerita rakyat tersebut ” tegas Rampa Maega yang sering dipanggil dengan nama Bung Rampa.

Selain itu salah satu yang memotivasi beliau untuk menjadi seorang penulis adalah karena beliau merasa telah berhutang kepada penulis- penulis yang telah ia baca bukunya. Salah satu cara untuk membayar hutang tersebut adalah dia harus menulis. Beliau berpendapat bahwa menulis merupakan salah satu cara untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada para penulis- penulis yang bukunya telah ia baca.

Selain Rampa Maega, ada juga salah seorang penulis wanita yang juga mempunyai pengalaman menarik sebagai seorang penulis . Beliau bernama Mugniar Marakarma yang juga bersatus sebagai ibu rumah tangga dari 3 orang anak. Perempuan yang sering dipanggil dengan nama ibu niar ini lahir dan besar di Makassar, beliau merupakan alumni mahasiswa Universitas Hasanuddin. Sejak kecil beliau memang sudah menggemari dibidang tulis menulis. Beliau sering menceritakan kehidupan sehari-harinya di blog pribadinya. “Menulis adalah kebutuhan jiwa, menulis juga merupakan pengobat stress “tegas Bu niar.

Salah satu hal yang menarik dari pengalaman ibu niar ini adalah beliau tidak perna berfikir untuk mebukukan catatan- catatan harianya dalam bentuk sebuah buku. Beliau menulis dan memosting tulisannya di blog hanya sebagai kebutuhan jiwa, bukan untuk persoalan komersil. Beberapa saat kemudian beliau mengikutkan blognya di salah satu ajang kompetisi besar yakni kompetisi blog harian. Dengan modal nekad, beliau pun mengikutsertakan blognya pada kompetisi tersebut. Ketekunan dan keahlian beliau mengantarkan beliau untuk menjadi salah seorang pemenang dalam kompetisi tersebut. Catatan harian bu niar yang terposting di blog pun kemudian dibukukan menjadi sebuah buku, yang sekarang sudah bisa didaparkan di toko- toko gramedia terdekat.

Diskusi kali ini berjalan dengan baik dibawah kendali  Khrisna Pabhicara selaku moderator. Respon audiens pun sangat tinggi dalam mengikuti diskusi kali ini. Hal tersebut terlihat dari banyaknya peserta yang tertarik untuk mengorek informasi dari kedua narasumber. “ Bagaimana menangkap dan menjaga ide- ide kecil atau sederhana menjadi ide- ide yang besar” tegas salah satu pertanyaan dari peserta yang ditujukan kepada kedua narasumber.

Bagaimana cara kita memaknai kehidupan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan ide tersebut, selain itu sebuah ide harus dilandasi oleh ketangguhan- ketangguhan emosi, intelektual dan yang paling penting adalah ketangguhan spiritual” Jawab Bu Niar. Selanjutnya Bung Rampa memperjelas bahwa sebuah ide besar ataupu ide kecil itu bergantung dari diri pribadi seseorang, bagaimana kita memaknai ide tersebut. Kadang kala kita berpendapat bahwa itu adalah ide besar, namun kadang kala orang lain berpendapat bahwa itu adalah ide kecil, begitupun sebaliknya.

Sebagai penutup diskusi, Khrisna Pabhicara selaku meoderator mengatakan bahwa “ Sulawesi Selatan merupakan lumbung literasi, jadi marilah kita manfaatkan dan kembangkan potensi kita dilumbung literasi tersebut. (15/06/2012)

Jumat, 15 Juni 2012

CATATAN SEJARAH MASYARAKAT BUGIS MAKASSAR DALAM GORESAN PENA PROFESSOR MATTULADA

0 komentar

 
Hari pertama Makassar International Writers Festival (MIWF) 2012 diadakan di Benteng Roterdam. Di hari pertama ini terdapat beberapa item acara yang diselenggarakan mulai pukul 10:00 am sampai pukul 22:00 pm. Salah satu agenda menarik hari ini ialah “ Disscusion : Today’s Bugis Makassar and Mattulada’s Intellectual Legacy”. Diskusi ini akan dibawakan oleh Mochtar Pabbotingi dan Anwar Jimpe Rachman, selain itu moderator dari diskusinya sendiri adalah Moch Hasymi Ibrahim. Mochtar Pabbotingi adalah seorang peneliti, pengamat politik dan seorang penulis yang produktif dengan puluhan essai, puisi, cerita pendek sejak ia belajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta selain itu beliau juga pernah menjadi mahasiswa dari Professor Mattulada sendiri. Selain Mochtar Pabbotingi diskusi tersebut juga diisi salah seorang penulis puisi, editor dan pustakawan, beliau merupakan Anwar Jimpe Rachman.

Diskusi kali ini akan membahas mengenai representasi warisan kultur bugis Makassar yang tertuang dalam coretan buku “LATOA” karya Professor Mattulada’s. Esensi dari buku ini ialah segala budaya dari berbagai lapisan masyarakat khususnya masyarakat bugis Makassar. Salah satu hal  menarik yang dituangkan oleh Professor Mattulada dalam bukunya ialah mengenai konsep politik dalam menyongsong kehidupan. Konsep politik ini memaparkan bahwa seluruh masyarakat mempunyai hak yang sama tanpa pembeda sama sekali. Seorang raja yang mempunyai kerajaan dan harta yang berlimpah mempunyai posisi yang sama dengan manusia biasa lainnya, raja tersebut berhak diadili jika melakukan kesalahan , seperti halnya dengan manusia biasa. Selain itu konsep politik ini juga memaparkan bahwa segala sesuatu yang harus dilakukan harus melewati proses musyawarah.

Mochtar Pabbotingi selaku pemateri memperjelas bahwa ada empat hal yang bisa ditafsirkan dari buku “LATOA” karya Professor Mattulada. Pertama bahwa manusia itu sederajat dengan manusia lainnya. Kedua adalah kerelevanan konsep atapun prinsip yang pertama dengan konsep demokrasi modern. Ketiga  mengenai pergeseran nilai- nilai  yang tercerminkan pada perilaku masyarakat bugis Makassar dan yang terakhir adalah mengenai konsep politik Aristoteles yang menjelaskan bahwa setiap manusia mempunyai tingkatan yang sama tanpa pembeda sama sekali.

Masyarakat bugis Makasar sebagai objek tulisan dalam buku karya Professor Mattulada terkenal akan penghormatan pada kata. Mereka menempatkan makna kata di tempat yang istimewa. Tidak ada suku yang bisa menandingi masyarakat bugis Makassar dalam penghormatan terhadap kata “tegas Pak Mochtar Pabbotingi”. Masyarakat bugis Makassar juga terkenal akan keterandalan, keterpercayaan terhadap penulisan histori setiap fakta ataupun filsafat penulisan sejarah Makassar tanpa melebih-lebihkan. Selain itu leluhur masyarakat bugis Makassar juga terkenal akan konsep politik dalam menyongsong kehidupan modern yang telah dipaparkan pada bagian awal.

Narasumber juga memaparkan bahwa kemajuan ilmu teknologi memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat bugis Makassar. Masyarakat bugis Makassar mulai kehilangan inisiatif sebagai subjek. Mereka mulai kehilangan orientasi atau rasionalitas dan mereka juga mulai merasakan ketidakmampuan masyarakat bugis Makassar dalam menentukan nasib sendiri secara rasional. Selain terhadap masyarakat bugis Makassar, kemajuan ilmu teknologi juga mempengaruhi konsep politik bugis Makassar yang menyebabkan terjadinya politik pecah bela dan distorsi politik atau penjinakan konsep politik bugis Makassar.
Terdapat beberapa alternatif solusi yang bisa dilakukan dalam mengatasi permasalahan di atas diantaranya adalah kebijakan politik dan kebijakan ekonomi harus diarahkan untuk mencerdaskan rakyat bukan semata-mata untuk memenuhi kepuasan pribadi. Ruang publik sebagai ruang peradaban juga harus dibiasakan pada masyarakat dan yang terakhir adalah kegiatan- kegiatan yang dapat mencerdaskan rakyat harus sering diberikan kepada masyarakat bukan kegiatan- kegiatan yang tidak mempunyai manfaat sama sekali yang hanya sekedar untuk memenuhi kepuasan sementara.

Jumat, 08 Juni 2012

JEJAK AWAL SANG VOLUNTEERS

0 komentar

JEJAK AWAL SANG VOLUNTEERS


Inilah awal cerita kami sebagai sang Volunteer dalam mengawal kesuksesan kegiatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2012 yang akan diselenggarakan pada tanggal 13- 17 Juni 2012.  Festival ini nantinya akan mengahadirkan beberapa penulis internasional, nasional dan penulis lokal, dengan menitikberatkan pada pertukaran pengalaman dan perluasan kerjasama. Tujun dari kegiatan ini terpancar dari tema yang diusung yakni “Visiting the Memories” . Program MIWF 2012 ini tersusun dari beberapa item acara, yang dikemas dalam bentuk diskusi, pembacaan karya, tur penulis, lokakarya dan panggung komunitas.

Jumat 9 Juni 2012 bertempat di Rumah Budaya  Rumata’ jalan Bonto Nompo 12 merupakan bukti bisu bertemunya seluruh Volunteer yang berhasil terpilih untuk mendedikasikan diri dalam kegiatan ini. Pertemuan yang dinahkodai oleh Kak Afdhalia ini berlangsung dengan baik, canda tawa dan keseriusan tatkala tidak lupa mewarnai pertemuan kali ini.  Pembagian job seperti LO, MC, Kordinator setiap kegiatan dan Tim kesekretariatan merupakan agenda rapat perdana yang akan dibahas.

Rasa penasaran terlukis di setiap wajah sang volunteer, mengenai tugas apa yang diamanahkan kepada mereka sebagai volenteer. Pembagian tugas ini tentunya berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh masing- masing volunteer. Volunteer yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik ditempatkan di bagian LO, Volunteer yang mempunyai pengalaman di bidang kesekretariatan ditempatkan di bagian kesekretariatan. Selain itu bagi Volunteer yang tidak secara aktif berbahasa Indonesia ditempatkan di bagian yang tidak perlu berkomunikasi dengan orang lain, Tegas kak Afdhalia.

Setelah pembagian job, masing- masing volunteer pun mulai menjalin keakraban dengan volunteer lainnya, rasa persaudaraan pun mulai terikat sesama volunteer. Sebelum pertemuan ini ditutup,  kak Afdhalia  sebagai sang nahkoda rapat sekali lagi mempertegas bahwa “tugas seorang volunteer adalah tugas sukarela, kita bekerja tanpa mengharapkan sebuah imbalan”. Sebenarnya masing- masing volunteer sudah mengetahui hal tersebut, “bekerja tanpa mengharapkan imbalan” itu adalah kami, sang volunteer sejati.


Pages

Herzlich Wilkommen in mein Blog

Herzlich Wilkommen in mein Blog
Yusri

Meine Freunden

Ich bin Schrifteller

Ketika seorang penulis hanya menunggu, maka sebenarnya ia belum menjadi dirinya sendiri”. [Stephen King]

Cari Blog Ini